Buka Wokshop Aplikasi Siskeudes, Bupati Tekankan Pentingnya Mematuhi Regulasi

WARTA KOMINFO. Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti, SE membuka secara resmi Workshop Evaluasi Implementasi Sistem Tata Kelola Keuangan Desa dengan Aplikasi Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) versi 2.0. Rabu (9/10) bertempat di Paruga Nae Convention Hall Kota Bima. Wokshop, selain diikuti oleh seluruh camat dan kepala desa lingkup pemerintah kabupaten bima serta pimpinan perangkat daerah, juga dihadiri Kepala Perwakilan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi NTB, Agus Puruhitaarga Purnomo Widodo, SE.,M.BA., Ph.D, Direktur Pengawasan akuntabilitas Keuangan Pembangunan dan Tata Kelola Pemerintahan Desa BPKP, Iskandar Novianto, Ak.,M.Si.,CfrA.,CA.,QIA.,CIPSAS.

Dalam arahannya, Bupati menekankan pentingnya kegiatan workshop ini untuk diikuti dengan sungguh-sungguh, dipelajari serta dipahami oleh kita semua sebagai pedoman terutama bagi para kepala desa.

“Terutama para kepala desa untuk senantiasa mengikuti dan mempelajari dengan sungguh-sungguh kegiatan ini, agar mampu mengelola anggaran dengan baik dan mentaati regulasi dan ketentuan dalam pengelolaan keuangan desa,” tegas Bupati.

Bupati juga berpesan kepada seluruh kepala desa yang hadir, untuk menjaga amanah yg diberikan oleh masyarakat dengan sebaik mungkin, dan jadilah Kepala desa yg mau belajar untuk menjadi yang terbaik, profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai kepala desa. “Pegang teguh amanah yang dipercayakan oleh masyarakat dan jadilah kepala desa yang terus menerus belajar untuk menjadi yang terbaik, “ harapnya.

Menutup arahannya, Bupati Bima, berharap kepada pemerintah desa serta Inspektorat Kabupaten Bima untuk terus melakukan pembinaan kepada seluruh aparatur perangkat desa agar mentaati sistem pengelolaan keuangan.

“Lebih dari itu kepala desa diharapakan mampu mendalami dan memahami apa yang menjadi kewenangan, sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam melaksanakan tugas, “tutupnya.

[Tim Komunikasi Publik Diskominfostik]

3 (tiga) Pejabat Struktural Lingkup Pemkab Bima Diambil Sumpah Jabatan

WARTA KOMINFO. Sebanyak 3 ( tiga) orang pejabat struktural lingkup Pemerintah Kabupaten Bima hari ini Rabu (2/10) di Ruang Rapat Bupati Bima diambil sumpah jabatanya untuk menduduki posisi jabatan di dinas / instansi / badan / kantor Lingkup Pemkab. Bima.

Pemgambilan sumpah jabatan ini berdasarkan lampiran Keputusan  Bupati Bima nomor: 821.2/789/07.2/2019 tanggal 2 Oktober 2019 tentang pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dalam dan dari jabatan struktural lingkup pemerintah Kabupaten Bima.

Pejabat yang dilantik diantaranya: Fahrurahman, SE, M.Si jabatan lama Sekretaris pada Inspektorat Kabupaten Bima, jabatan baru Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik Kabupaten Bima, Taufik, ST, MT  jabatan lama Sekretaris pada Dinas Perumahan  dan Kawasan Permukiman dan jabatan baru  Kadis Perumahan  dan Kawasan Permukiman Kabupaten Bima serta Aries Munandar, ST, MT jabatan lama Kepala Bidang Transmigrasi  pada Disnakertrans Kabupaten Bima dan jabatan baru Kepala BPBD Kabupaten Bima.

Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE mengatakan bahwa Mutasi dan rolling ini merupakan hal yang biasa dalam suatu organisasi pemerintahan karena merupakan tuntutan organisasi dalam meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.  semoga pelantikan ini dapat lebih memberikan motivasi kepada saudara untuk senantiasa berkiprah dan mengabdikan diri selaku ASN, sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang menjadi tanggung jawab saudara sebagai seorang pejabat. 

Oleh sebab itu, jabatan yang diberikan kepada saudara-saudara sekalian harus disyukuri dan hendaknya dapat dijaga dan diimbangi dengan kejujuran, keikhlasan, serta prestasi dalam bekerja.  untuk itu dibutuhkan suatu keseriusan, tanggung jawab moral, dan komitmen bersama, serta bekerja maksimal dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat lampung barat.

Selaku pimpinan daerah saya berharap, kepada saudara-saudara dan segenap aparatur pemerintah kabupaten lampung barat agar dapat meneguhkan niat dan tekad untuk menjadi teladan, baik dalam menjalankan tugas, maupun sebagai anggota masyarakat.  

Bagi pejabat eselon II ini dan yang menjadi pucuk pimpinan satuan kerja, tentu dirinya harus mampu mengarahkan seluruh jajaran staf untuk melaksanakan program kerja.  saya juga ingatkan para pejabat eselon II, harus mampu membaca visi yang dikedepankan oleh pimpinan dan sekaligus harus memiliki kecakapan untuk merealisasikannya, karena itu dalam banyak hal, para pejabat eselon II, ini tetap dituntut untuk menguasai hal-hal yang bersifat teknis.

Selanjutnya, saya minta kepada seluruh pejabat yang dilantik hari ini untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Pertama, segeralah lakukan adaptasi terhadap tugas pokok dan fungsi jabatan masing-masing, serta bangun koordinasi, komunikasi dan kerja sama efektif secara berjenjang, baik dengan pimpinan ataupun dengan atasan.  

Kedua, perlu kita sadari bahwa tugas pelayanan bukanlah pekerjaan mudah, apalagi kebutuhan dan kepentingan masyarakat semakin meningkat dan beragam. oleh karena itu, segera pelajari dan pahami tupoksi serta lingkungan kerja masing-masing secara cepat dan akurat sehingga proses adaptasi pegawai berjalan secara cepat pula. juga tingkatkan motivasi dan semangat kerja, sehingga tugas-tugas yang telah dipercayakan dapat dilaksanakan dengan baik.

Ketiga, saya ingatkan kepada pejabat yang baru dilantik untuk selalu mengayomi dan melindungi jabatan dibawahnya. terutama memberikan arahan, sehingga mereka dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.  jabatan yang saudara emban bukanlah hak tetapi kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan dan merupakan sebuah amanah yang harus dipertanggung jawabkan baik di dunia dan akherat. 

Keempat, ciptakanlah  suasana kerja yang kondusif dan pupuk kerja sama yang baik diantara pimpinan dan staff di lingkungan unit kerja saudara agar tugas-tugas yang menjadi tanggungjawab dapat dicapai dengan hasil maksimal. ingatlah bahwa keberhasilan dan kesuksesan kerja seorang atasan tidak akan bisa diraih tanpa ada dukungan penuh dari para bawahan. ini perlu menjadi perhatian semua pejabat yang ada dilingkungan pemerintah Kabupaten Bima.

Saya ucapkan “selamat” menempati  jabatan baru bagi para pejabat yang baru dilantik serta dapat bekerja dengan giat, jujur, kreatif dan bertanggung jawab. saya yakin dan percaya bahwa saudara-saudara akan mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan oleh pemerintah dengan sebaik-baiknya, sesuai bekal pengalaman yang saudara-saudara miliki selama ini.

[Tim Komunikasi Publik Diskominfostik Kab. Bima]

Dinas Kelautan Dan Perikanan Gelar “Aksi Menghadap Laut”

WARTA KOMINFO. Pantai Kalaki Kecamatan Palibelo yang memiliki panjang 1 km menjadi lokasi kegiatan “Aksi Menghadap ke Laut” Jumat sore (27/9) yang dimulai jam 15.00 sampai jam 17.30 Wita.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima Ir. Hj. Nurma, M.Si mengatakan, perangkat daerah yang dipimpinnya bekerjasama dengan Camat Palibelo Drs. Darwis, Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu Hasil Perikanan (BKIPM) Bima Ridwan S.STTPi dan Relawan Jao yang dipimpin Kabid Rehabilitasi Aris beserta 7 orang anggota.

Aksi diawali dengan pembersihan sampah dan laut dari plastik dan ampah lainnya di sepanjang garis pantai yang dilanjutkan dengan pemasangan papan larangan merusak ekosistem pantai dan senam zumba di pinggir Pantai Kalaki.

Dijelaskan Hj. Nurma, gerakan bersih-bersih pantai yang mengundang para ASN Dinas Kelautan dan Perikanan, Camat Palibelo, Kades Panda, Vokasi Unram, BKIPM Bima dan Relawan Jao tersebut mengambil tempat di Pantai Kalaki Desa Panda mengingat besarnya volume sampah pada kawasan tersebut. 

Dirinya menjelaskan, saat ini ekosistem laut dan pantai terus menghadapi ancaman sampah terutama sampah plastik. Untuk menanganinya, Pemerintah Kabupaten Bima berkomitmen melakukan berbagai langkah, salah satunya melalui gerakan menghadap laut dengan beragam kegiatan membersihkan laut dan pantai. Disamping itu juga memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar lokasi wisata agar berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan pesisir dan laut.

Gerakan Menghadap ke Laut merupakan program yang digagas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti sebagai agenda tahunan dalam aksi Rencana Nasional pengurangan sampah yang masuk ke laut.               

(Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bima didukung oleh Tim Komunikasi Publik Diskominfostik)

BKD – BPJS Kesehatan Sosialisasikan JKN

WARTA KOMINFO. Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Diklat Kabupaten Bima bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Bima Rabu (28/8) menggelar Sosialisasi beberapa  program yang  ada dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional yang mencakup Pensiun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) di Aula UPT Penunjang Dikbudpora Kecamatan Belo.

Kepala BKD dan Diklat Kabupaten Bima Drs. Syahrul dalam arahannya menekankan pentingnya keikutsertaan dalam program ini karena regulasi pensiun, JKK dan JKM telah mengalami perubahan sehingga membutuhkan penyesuaian informasi dan kemampuan agar penanganannya dapat diselesaikan dengan baik. 

Sebelumnya,    Kepala Bidang Kesra dan Informasi Kepegawaian BKD Kabupaten Bima Dr. Rusli Karim M.Si mengatakan  kegiatan ini mengundang peserta terdiri dari unsur pejabat pengelola kepegawaian pada kantor Camat, UPT penunjang dinas/badan,   Puskesmas, perwakilan dari SDN dan SMPN juga CPNS yg ada di kecamatan Belo, Palibelo, dan Woha.  

“Sosialisasi merupakan upaya memperjelas komunikasi terkait dengan tata cara pengurusan pensiun, JKK dan JKM agar PNS tidak dirugikan atas hak-hak kepegawaiannya dan mengetahui mekanismenya prosedur pengurusannya seperti jika terjadi kecelakaan kerja”.  Terang Rusli.

Narasumber lainnya, Kepala Perwakilan BPJS Kesehatan Kabupaten Bima Ilham mengatakan, BPJS menjalankan amanat  Perpres nomor 82 Tahun 2018 bahwa seluruh penduduk di wajibkan mendaftar sebagai peserta JKN termasuk orang asing yang tinggal di indonesia minimal 6 bulan wajib harus mendaftar”.  Ungkapnya.

Menurut Ilham, manfaat sebagai peserta JKN adalah sebagai proteksi dari resiko biaya apabila mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama sampai fasilitas kesehatan lanjutan.

Manfaat lainnya lanjut Ilham yaitu  sistem gotong royong dalam membantu pembiayaan jaminan kesehatan (sharing). Disamping menjalankan kewajiban sesuai UU dimana ASN dan CPNS wajib harus menjadi peserta JKN. 

Menutup pemaparannya, Ilham mengharapkan Pemerintah Daerah dengan BPJS Kesehatan  terus melakukan koordinasi dan upaya dalam rangka peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat, khususnya bagi para ASN yang menjelang pensiun dan CPNS agar dapat memperoleh informasi seputar Hak dan Kewajiban menjadi peserta JKN.

[Badan Kepegawaian dan Diklat Kabupaten Bima didukung oleh Tim Komunikasi Publik Diskominfostik].

Wantimpres Bahas Percepatan Penanganan Stunting Dengan Pemkab Bima

WARTA KOMINFO. Tim Sekretariat Wakil Presiden dan World Bank melakukan kunjungan di Kabupaten Bima dalam rangka percepatan pencegahan stunting di Kabupaten Bima. Tim melakukan pertemuan dan koordinasi bersama perangkat daerah terkait yang di inisiasi oleh Bappeda dan Litbang Kabupaten Bima, Senin (9/9) di Ruang Rapat Bupati Bima. 
               Tim Sekretariat Wakil Presiden, dipimpin oleh Drs. H. Edi Suryana, MM sedangkan World Bank dipimpin dr. Elvina Karyadi, Ph.D mendapatkan informasi berkaitan penanganan stunting dari perangkat daerah terkait yaitu Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Dikbudpora dan camat yang menjadi fokus percepatan penanganan stunting yakni camat Bolo, Madapangga dan Camat Sape.
               Wakil Bupati Bima H. Dahlan M. Noer yang didampingi Kepala Bappeda Kabupaten Bima Drs. H. Muzakkir, M.Sc dalam arahannya mengatakan penanganan stunting memerlukan intervensi dan tindakan nyata program pemerintah baik dari pusat sampai daerah dalam penanganan stunting”. Urai Dahlan.
                 Ditambahkan Wabup pertemuan ini difokuskan untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan penanganan stunting di Kabupaten Bima, akselerasi program dan kebijakan terkait penanganan stunting.
               Selaras dengan pemaparan Wabup, Drs. H. Edi Suryana, MM, Sekretariat Wakil Presiden RI dalam pemaparannya menyampaikan, “pemerintah sudah dan  akan terus melakukan percepatan penanganan stunting sebagai program nasional”.
              Diakuinya, meskipun angka stunting menunjukkan adanya prevalensi penurunan, akan tetapi hingga saat ini angka stunting masih diatas 30 persen.
              Oleh karenanya, pemerintah telah menyusun Strategi Nasional Pencegahan Stunting tahun 2019 – 2024 yang akan menjadi acuan Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota hingga tingkat Pemerintah Desa.
              “Penanganan stunting melibatkan 23 Kementerian dan Lembaga Pemerintah, namun belum bersinergi dan selaras. untuk kepentingan percepatan penanganan inilah sehingga langsung dikoordinasikan langsung oleh Sekretariat Wakil Presiden melalui pola pendampingan langsung hingga tingkat desa”. Jelas Edy Suryana
             Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya Bappeda Raani Wahyuni ST, MT, M.Sc yang mendampingi Tim me jelaskan, “sesuai agenda, Tim dan World Bank beserta seluruh komponen pemerintah daerah dibawah koordinasi Bappeda selanjutnya melakukan kunjungan lapangan.
                   Kunjungan dimulai Selasa (10/9) di Kecamatan Sape, Kecamatan bolo dan Madapangga dengan sasaran kunjungan diantaranya Puskesmas dan Posyandu.  “Hasil yang ingin dicapai antara lain perubahan perilaku dan tingkat capaian percepatan penanganan stunting secara langsung di Kabupaten Bima”.  Terang Raani.


[Bappeda dan Litbang Kabupaten Bima didukung oleh Tim Komunikasi Publik Diskominfostik]

“Pulau Ular” Aset Wisata Alam Desa Pai Kecamatan Wera Kabupaten Bima – NTB

Pulau Ular merupakan Salah satu pulau yang berada di tengah perairan bagian timur wilayah kecamatan Wera. Pulau ini juga bersebelahan dengan dua obyek wisata daerah kabupaten Bima, yaitu pulau Gilibanta dan Tolowamba. Pulau ini merupakan habitat bagi populasi ular laut dengan keunikan warnannya putih silver dengan kombinasi hitam kilat.

Ular-ular berwarna hitam putih cerah itu sangat mempesona bila tertimpa cahaya matahari. Wisatawan sangat menyukai momen-momen menyaksikan pemandangan langka ini. Mereka tanpa ketakutan mengalungkan ular-ular besar ini di lehernya. Yang tak kalah aneh, bentuk ekor ular ini sudah pipih menyerupai ekor ikan. Para nelayan sering menemukannya masuk dalam jaring, namun segera dilepaskan karena mitos khusus terhadap ular tersebut. Ular ini tak bisa dibawa kemana-mana, karena akan selalu kembali ke habitatnya. Kalau tidak bisa kembali, dipercaya akan mendatangkan bencana bagi masyarakat Desa Pai. Karenanya, masyarakat desa sangat menjaga kelestarian satwa itu.

Pulau Ular dapat dijangkau dengan jarak tempuh lebih kurang 45 menit perjalanan dari Kota Bima dengan menggunakan transportasi darat. Setelah tiba di Desa Kalo Kecamatan Wera, selanjutnya untuk menuju Pulau Ular, anda harus menggunakan perahu/sampan yang telah disediakan masyarakat sekitar dengan waktu tempuh 15 menit dari daratan.

Sebelum menyeberang ke pulau ini kita juga akan menemukun keunikan lain yang ada di daerah ini. Keunikannya adalah ada banyak mata air dipinggir pantai yang apabila air pantai naik maka mata air ini akan tertutup tapi anehnya air dari mata air tersebut rasanya tetap tawar seperti air yang ada dirumah-rumah pada umumnya. Penduduk disini menyebutnya dengan Oi Ca’ba, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia artinya air yang tawar.

Ular-ular di pulau ini menurut penduduk setempat merupakan jenis ular laut. Siapapun tahu bahwa ular laut termasuk ular yang sangat beracun. Dilihat dari ciri-ciri fisiknya, ular tersebut memang berbentuk seperti ular laut. ekornya pipih seperti ekor ikan, warnanya putih silver dan hitam mengkilat. Ketika dipegang tidak terasa licin sama sekali sebagaimana layaknya ular-ular di darat. Kulitnya lebih terasa kesat dan bersirip seperti ikan. Walau hidup liar, mereka sangat jinak dan ramah terhadap pengunjung. Ketika dipegang mereka sama sekali tidak menggigit atau melilit. Bahkan ketika dipegang dalam jumlah yang cukup banyak, ular-ular tersebut tetap jinak.

Di balik keunikan pulau ini menyimpan sebuah mitos. Orang-orang disekitar pulau mengatakan bahwa asal mulanya pulau tersebut berasal dari sebuah kapal belanda dulu yang ingin datang ke Bima kemudian orang-orang sekitar mengutuk kapal itu menjadi sebuah pulau dan ular-ular yang menghuni pulau tersebut adalah ular jadi-jadian yang bertugas untuk melindungi pulau tersebut. Dua pohon kamboja yang berada di atas pulau itu dikatakan sebagai tiang dari kapal belanda tersebut.Ular ini tidak bisa dibawa kemana-mana. Kalau ada yang membawanya keluar dari daerah itu, ular tersebut akan segera kembali ke komunitasnya lagi. Kalau tidak bisa kembali, dipercayai akan mendatangkan bencana bagi masyarakat Desa Pai, makanya masyarakat desa sangat menjaga kelestarian satwa itu.

OPINI

Pulau ular adalah aset bagi masyarakat bima, dimana Keunikannya terdapat mata air dipinggir pantai yang apabila air pantai naik maka mata air ini akan tertutup tapi anehnya air dari mata air tersebut rasanya tetap tawar seperti air yang ada dirumah-rumah pada umumnya. Penduduk disini menyebutnya dengan Oi Ca’ba, kalau diartikan dalam bahasa Indonesia artinya air yang tawar. Pulau ular ini perlu di lestarikan oleh masyarakat bima sebagai asset nasional maupun internasional.

Perjalanan Dari Kota Bima ke Desa Sangiang Wera Keindahan yang Tak Kunjung Usai

Benar ternyata! Memang lah saat berada di dalam Kota Bima, seperti umumnya kota yang sedang berkembang di Pulau Jawa, sekilas sepertinya tak ada yang  istimewa. Rumah dan toko yang berciri mau pun tidak bangunan Bima berjejer di depan jalan. Angkot, cikomo, mobil pribadi, dan ojek berseliweran. Kadang parkir begitu saja seperti hanya mereka pengguna jalan. Pasar tradisional menjual hasil alam dan industri yang menggambarkan bagaimana masyarakat mengkonsumsi. Begitu pun sarana umum berupa tempat ibadah dan alun-alun bahwa hidup mengalir mengikuti kemajuan. Namun saya merekam aktivitas penduduk dalam perasaan bahwa setelah pulang saya pasti akan sangat merindukan tempat ini.

Mengawasi petani bekerja di sawah

Berbeda begitu keluar dari gerbang kota. Afirmasi pada kerinduan tanah Nusa Tenggara Barat  suatu saat nanti semakin menguat. Bukan hanya karena lansekapnya sangat berbeda dari Pulau Jawa dan Sumatera  bahwa tempat ini kurang terekspos dari sisi pariwasat mungkin alasan utamanya. Di tempat-tempat yang sudah jadi destinasi wisata massal relatif sulit menemukan keunikan yang membuat mulut mengucapkan wow secara natural. Mungkin sudah terbiasa melihatnya dari majalah dan internet atau juga karena over komersil membentuk pandangan bahwa itu sudah biasa. Dan lansekap yang saya lalui kala  menuju Sangiang mengukir pandangan baru bagi saya akan arti keindahan sebuah perjalan.

Melintasi dusun, persawahan, dan pantai

Sawah dilihat dari atas bukit

Perjalanan itu tejadi di Agustus, puncak musim kering tanah air. Kecerahan mentari pagi seolah menelanjangi tanah Bima yang kerontang. Langit biru memayungi lahan keabuan bertabur beberapa pohon hijau. Bukit-bukit kapur dengan semak kering, kambing-kambing, dan sapi-sapi hening menghadap lautan lepas. Ombak kecil menghempas kemudian hilang. Mungkin karena masih pagi tak terlihat penduduk memandikan kuda, aktivitas biasa yang saya lihat di tepi pantai sepanjang sore kemarin di Kota Bima. Gulungan air yang diterbangkan angin, pecahan  kecilnya menyampaikan pesan bahwa laut yang membiru itu teramat dalam.

Melintasi jalan berliku

Gunung, lembah, dan jalan berkelok turun-naik

Dari kejauhan Gunung Sangiang Api berdiri kokoh. Abu vulkaniknya melambai-lambai menjangkau awan. Setelah melintasi jalan berliku, bekelok yang bersisian dengan tepi jurang terjal, kami masuk ke jalan di tepi laut.

Gunung Api Sangiang dari jauh
Gunung Api Sangiang dari jauh

Gunung Api Sangiang dari jauh

Iya selain mengikuti lentur punggung perbukitan, perjalanan Kota Bima menuju Desa Sangiang Wera ini diteruskan menyusuri tepian Teluk Bima yang tersambung ke Laut Flores. Ini lah lintasan pelayaran modern, jalur kapal Benoa/Denpasar-Bitung atau Bima-Labuan Bajo. Mungkin juga ini lah lajur pelayaran nenek moyang bangsa Dana Mbojo beratus tahun lalu.  Pantainya penuh lekukan membentuk ratusan teluk mini.  Makjang! Kabupaten ini beruntung sekali. Dengan Gunung Sangiang Api yang masih aktif itu tak sulit bagi anak mudanya menemukan tempat selfie keren. Bahkan satu dua lekukan  pantainya berbentuk setengah lingkaran sempurna.

Sekalipun bisa bertanya pada Pak Alan yang menemani, selama perjalan saya membuka Google Mapas dan menghidupkan GPS ponsel. Tak enak  bertanya setiap saat hanya untuk mengetahui posisi saat itu. Sayangnya seperti juga banyak tempat di Bima, lansekap mereka di Google Maps masih banyak belum  bernama. Saya mencoba membuat erth tagging untuk foto di Instagram, setali tiga uang, yang keluar hanya titik GPS. Beberapa pantai sudah bernama seperti Pantai Radu, Pantai Oi Tui, Pantai Tololai, dan Pantai So Sanumbe. Selebihnya kosong.  Tapi tetap saya beri bintang guna  menandai bahwa saya pernah di sana. Akun Google saya akan menyimpan tagging ini untuk banyak keperluan di masa depan.

Lengkung laut hampir setengah lingkaran
Lengkung laut hampir setengah lingkaran

Lengkung laut hampir setengah lingkaran

Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai
Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai

Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai

Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan
Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan

Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan

Aktivitas di Tepi Jalan

Namanya road trip, melintas dengan kendaraan bermotor kemudian meninggalkan jejak karbon semena-mena  di belakang. Selebihnya tak bisa melakukan apa-apa selain selang-seling memandang aktivitas penduduk dengan pemandangan alam. Artinya tak ada  yang bisa ditanyai berapa ekor ternak yang dimiliki gembala yang sedang mencari rumput di perbukitan. Atau kemana mereka yang melaju kencang mendahului mobil kami dengan sepeda motornya pergi?  Orang yang berjualan atau menunggu kendaraan umum duduk di pondok tepi jalan sudah berapa lama di sana?  Baliho-baliho kampanye para pemimpin daerah itu siapa nama mereka? Apa visi mereka untuk daerah cantik ini?  Sekelompok ibu-ibu membawa bingkisan yang hendak pergi ke pesta tetangga, apa buah tangan mereka? Bapak-bapak yang merokok sambil tercenung mengawasi kendaraan yang berlalu lalang, sedang memikirkan apa?

terminal wera
terminal wera

Terminal Wera yang sepi dari kendaraan

Jalan  lintas Kota Bima-Desa Sangiang Wera sudah beraspal mulus. Tidak demikian dengan rumah penduduknya, ada yang  bagus, banyak pula yang tidak. Rumah-rumah itu terbuat dari tembok dan papan. Menurut kawan diantara desa yang kami lintasi tersebut ada yang belum dimasuki jaringan PLN. Kalau pun ada kadang listriknya hanya menyala selam 6 jam perhari.

Rumah tradisional Bima berupa rumah panggung yang terbuat dari papan. Yang eksotis adalah terlihat banyak kaum ibu menenun di bawah maupun di kolong rumah. Warna-warna benang yang mencolok terlihat jelas di kejauhan.

Rumah lama di tepi jalan

Perjalanan Pulang

Setelah urusan dianggap selesai di Sangeang hari itu juga kami balik ke Kota Bima. Perjalanan pulang lebih dramatis view-nya. Saat perlahan matahari turun bias jingga dari laut dan darat membuat shutter camera saya tak berhenti bekerja.

Di sebuah tempat kami tak tak tahan untuk tak berhenti melihat sunset perlahan hadir di depan mata. “Yuk turun poto-potoan!” Semua sepakat. Jangan lupa pakai Kaca Mata Korea biar tambah keceh. Bang Alan Guteres, pimpinan Yayasan dan sekolah gratis Darul Ulum untuk anak-anak kurang mampu di Ambalawi Tololai,  pemenang Kick Andy Hero, dan tokoh inspiratif Dompet Dhuafa, tanggap terhadap kebutuhan penganut garis keras “gak sah berkunjung ke satu tempat kalau tak narsis!”  Matahari menjingga itu perlahan menghilang ke bawah laut.

Semoga di lain waktu bisa menulis profil Alan Guteres di sini. Sementara itu silahkan nikmati foto-foto sunset– nya dulu

Alan Guteres, Donna Imelda, Gunung Api Sangiang, dan sore yang indah

Perlahan beranjak turun menuju peraduan. Tapi menurut sudut pandang saya sih..

Kebesaran Sang Jago Pembuat

Tak ada yang baru di bawah Sang Mentari