Perjalanan Dari Kota Bima ke Desa Sangiang Wera Keindahan yang Tak Kunjung Usai

Benar ternyata! Memang lah saat berada di dalam Kota Bima, seperti umumnya kota yang sedang berkembang di Pulau Jawa, sekilas sepertinya tak ada yang  istimewa. Rumah dan toko yang berciri mau pun tidak bangunan Bima berjejer di depan jalan. Angkot, cikomo, mobil pribadi, dan ojek berseliweran. Kadang parkir begitu saja seperti hanya mereka pengguna jalan. Pasar tradisional menjual hasil alam dan industri yang menggambarkan bagaimana masyarakat mengkonsumsi. Begitu pun sarana umum berupa tempat ibadah dan alun-alun bahwa hidup mengalir mengikuti kemajuan. Namun saya merekam aktivitas penduduk dalam perasaan bahwa setelah pulang saya pasti akan sangat merindukan tempat ini.

Mengawasi petani bekerja di sawah

Berbeda begitu keluar dari gerbang kota. Afirmasi pada kerinduan tanah Nusa Tenggara Barat  suatu saat nanti semakin menguat. Bukan hanya karena lansekapnya sangat berbeda dari Pulau Jawa dan Sumatera  bahwa tempat ini kurang terekspos dari sisi pariwasat mungkin alasan utamanya. Di tempat-tempat yang sudah jadi destinasi wisata massal relatif sulit menemukan keunikan yang membuat mulut mengucapkan wow secara natural. Mungkin sudah terbiasa melihatnya dari majalah dan internet atau juga karena over komersil membentuk pandangan bahwa itu sudah biasa. Dan lansekap yang saya lalui kala  menuju Sangiang mengukir pandangan baru bagi saya akan arti keindahan sebuah perjalan.

Melintasi dusun, persawahan, dan pantai

Sawah dilihat dari atas bukit

Perjalanan itu tejadi di Agustus, puncak musim kering tanah air. Kecerahan mentari pagi seolah menelanjangi tanah Bima yang kerontang. Langit biru memayungi lahan keabuan bertabur beberapa pohon hijau. Bukit-bukit kapur dengan semak kering, kambing-kambing, dan sapi-sapi hening menghadap lautan lepas. Ombak kecil menghempas kemudian hilang. Mungkin karena masih pagi tak terlihat penduduk memandikan kuda, aktivitas biasa yang saya lihat di tepi pantai sepanjang sore kemarin di Kota Bima. Gulungan air yang diterbangkan angin, pecahan  kecilnya menyampaikan pesan bahwa laut yang membiru itu teramat dalam.

Melintasi jalan berliku

Gunung, lembah, dan jalan berkelok turun-naik

Dari kejauhan Gunung Sangiang Api berdiri kokoh. Abu vulkaniknya melambai-lambai menjangkau awan. Setelah melintasi jalan berliku, bekelok yang bersisian dengan tepi jurang terjal, kami masuk ke jalan di tepi laut.

Gunung Api Sangiang dari jauh
Gunung Api Sangiang dari jauh

Gunung Api Sangiang dari jauh

Iya selain mengikuti lentur punggung perbukitan, perjalanan Kota Bima menuju Desa Sangiang Wera ini diteruskan menyusuri tepian Teluk Bima yang tersambung ke Laut Flores. Ini lah lintasan pelayaran modern, jalur kapal Benoa/Denpasar-Bitung atau Bima-Labuan Bajo. Mungkin juga ini lah lajur pelayaran nenek moyang bangsa Dana Mbojo beratus tahun lalu.  Pantainya penuh lekukan membentuk ratusan teluk mini.  Makjang! Kabupaten ini beruntung sekali. Dengan Gunung Sangiang Api yang masih aktif itu tak sulit bagi anak mudanya menemukan tempat selfie keren. Bahkan satu dua lekukan  pantainya berbentuk setengah lingkaran sempurna.

Sekalipun bisa bertanya pada Pak Alan yang menemani, selama perjalan saya membuka Google Mapas dan menghidupkan GPS ponsel. Tak enak  bertanya setiap saat hanya untuk mengetahui posisi saat itu. Sayangnya seperti juga banyak tempat di Bima, lansekap mereka di Google Maps masih banyak belum  bernama. Saya mencoba membuat erth tagging untuk foto di Instagram, setali tiga uang, yang keluar hanya titik GPS. Beberapa pantai sudah bernama seperti Pantai Radu, Pantai Oi Tui, Pantai Tololai, dan Pantai So Sanumbe. Selebihnya kosong.  Tapi tetap saya beri bintang guna  menandai bahwa saya pernah di sana. Akun Google saya akan menyimpan tagging ini untuk banyak keperluan di masa depan.

Lengkung laut hampir setengah lingkaran
Lengkung laut hampir setengah lingkaran

Lengkung laut hampir setengah lingkaran

Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai
Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai

Sepertinya banyak penambangan pasir di sepanjang pantai

Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan
Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan

Mampir sejenak di Pantai Tololai untuk foto-fotoan

Aktivitas di Tepi Jalan

Namanya road trip, melintas dengan kendaraan bermotor kemudian meninggalkan jejak karbon semena-mena  di belakang. Selebihnya tak bisa melakukan apa-apa selain selang-seling memandang aktivitas penduduk dengan pemandangan alam. Artinya tak ada  yang bisa ditanyai berapa ekor ternak yang dimiliki gembala yang sedang mencari rumput di perbukitan. Atau kemana mereka yang melaju kencang mendahului mobil kami dengan sepeda motornya pergi?  Orang yang berjualan atau menunggu kendaraan umum duduk di pondok tepi jalan sudah berapa lama di sana?  Baliho-baliho kampanye para pemimpin daerah itu siapa nama mereka? Apa visi mereka untuk daerah cantik ini?  Sekelompok ibu-ibu membawa bingkisan yang hendak pergi ke pesta tetangga, apa buah tangan mereka? Bapak-bapak yang merokok sambil tercenung mengawasi kendaraan yang berlalu lalang, sedang memikirkan apa?

terminal wera
terminal wera

Terminal Wera yang sepi dari kendaraan

Jalan  lintas Kota Bima-Desa Sangiang Wera sudah beraspal mulus. Tidak demikian dengan rumah penduduknya, ada yang  bagus, banyak pula yang tidak. Rumah-rumah itu terbuat dari tembok dan papan. Menurut kawan diantara desa yang kami lintasi tersebut ada yang belum dimasuki jaringan PLN. Kalau pun ada kadang listriknya hanya menyala selam 6 jam perhari.

Rumah tradisional Bima berupa rumah panggung yang terbuat dari papan. Yang eksotis adalah terlihat banyak kaum ibu menenun di bawah maupun di kolong rumah. Warna-warna benang yang mencolok terlihat jelas di kejauhan.

Rumah lama di tepi jalan

Perjalanan Pulang

Setelah urusan dianggap selesai di Sangeang hari itu juga kami balik ke Kota Bima. Perjalanan pulang lebih dramatis view-nya. Saat perlahan matahari turun bias jingga dari laut dan darat membuat shutter camera saya tak berhenti bekerja.

Di sebuah tempat kami tak tak tahan untuk tak berhenti melihat sunset perlahan hadir di depan mata. “Yuk turun poto-potoan!” Semua sepakat. Jangan lupa pakai Kaca Mata Korea biar tambah keceh. Bang Alan Guteres, pimpinan Yayasan dan sekolah gratis Darul Ulum untuk anak-anak kurang mampu di Ambalawi Tololai,  pemenang Kick Andy Hero, dan tokoh inspiratif Dompet Dhuafa, tanggap terhadap kebutuhan penganut garis keras “gak sah berkunjung ke satu tempat kalau tak narsis!”  Matahari menjingga itu perlahan menghilang ke bawah laut.

Semoga di lain waktu bisa menulis profil Alan Guteres di sini. Sementara itu silahkan nikmati foto-foto sunset– nya dulu

Alan Guteres, Donna Imelda, Gunung Api Sangiang, dan sore yang indah

Perlahan beranjak turun menuju peraduan. Tapi menurut sudut pandang saya sih..

Kebesaran Sang Jago Pembuat

Tak ada yang baru di bawah Sang Mentari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *